Banyak mitos yang beredar di masyarakat mengenai jeroan sapi, seperti hati, ginjal, dan otak, sebagai pemicu kolesterol tinggi. Benarkah demikian? Mari kita telaah lebih lanjut fakta di balik anggapan ini. Kandungan nutrisi dalam jeroan sapi memang cukup tinggi, termasuk kolesterol. Namun, perlu dipahami bahwa kolesterol dalam makanan tidak secara otomatis menjadi penyebab utama peningkatan kadar kolesterol dalam darah.
Hati sapi, misalnya, kaya akan zat besi, vitamin A, dan vitamin B kompleks. Ginjal sapi mengandung protein dan mineral penting lainnya. Otak sapi memang memiliki kandungan kolesterol yang relatif tinggi dibandingkan organ lain. Namun, respons tubuh terhadap asupan kolesterol dari makanan sangat bervariasi antarindividu. Bagi sebagian besar orang sehat, mekanisme regulasi tubuh mampu menjaga keseimbangan kadar kolesterol meskipun mengonsumsi makanan yang mengandung kolesterol.
Pada hari Minggu, 11 Mei 2025, pukul 09.00 WIB, di Puskesmas Kecamatan Setiabudi, Jakarta Selatan, dr. Tania Wijaya memberikan penyuluhan kesehatan mengenai mitos dan fakta seputar kolesterol. Dalam sesi tersebut, dr. Tania menjelaskan bahwa faktor utama pemicu kolesterol tinggi dalam darah justru lebih sering disebabkan oleh konsumsi berlebihan makanan tinggi lemak jenuh dan lemak trans, kurangnya aktivitas fisik, serta faktor genetik.
Lebih lanjut, dr. Tania mencontohkan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa asupan kolesterol dari makanan memiliki pengaruh yang lebih kecil terhadap kadar kolesterol darah dibandingkan dengan asupan lemak jenuh dan lemak trans. Meskipun demikian, bagi individu yang memiliki kondisi medis tertentu, seperti hiperkolesterolemia familial, atau yang sangat sensitif terhadap asupan kolesterol, konsumsi jeroan sapi perlu dibatasi.
Penting untuk diingat bahwa pola makan secara keseluruhan dan gaya hidup sehat memiliki peran yang jauh lebih signifikan dalam mengontrol kadar kolesterol darah. Konsumsi makanan tinggi serat, buah-buahan, sayuran, dan biji-bijian, serta rutin berolahraga, lebih efektif dalam menjaga kadar kolesterol tetap normal. Jadi, anggapan bahwa jeroan sapi secara mutlak menjadi pemicu kolesterol tinggi tidak sepenuhnya benar dan perlu dilihat dalam konteks pola makan dan kondisi kesehatan individu secara keseluruhan. Informasi lebih lanjut mengenai pengelolaan kadar kolesterol dapat diperoleh dari dokter atau ahli gizi terpercaya.
