Kondisi darurat pascabencana alam sering kali merusak jaringan infrastruktur publik dan memicu kelangkaan pasokan air bersih bagi para pengungsi. Selain membekali mahasiswa dalam pengelolaan dapur umum bencana, kampus ini secara intensif melatih keterampilan penyehatan lingkungan darurat. Penguasaan teknik sanitasi air di lokasi pengungsian menjadi fokus utama guna mencegah merebaknya wabah penyakit menular berbasis air seperti diare dan kolera.
Materi pelatihan mengajarkan metodologi cepat dalam menilai kualitas fisik, kimia, dan mikrobiologi sumber air baku di sekitar lokasi penampungan pengungsi. Pelaksanaan penyehatan sanitasi air mencakup perakitan teknologi penjernihan air sederhana menggunakan media pasir, kerikil, arang aktif, dan kaporit. Mahasiswa dilatih mengubah air keruh dari sungai atau sumur tercemar menjadi pasokan air layak pakai yang memenuhi standar kesehatan darurat.
Praktik pengujian kadar sisa klorin dan pengukuan pH air dilakukan secara berkala di lokasi simulasi tenda pengungsian. Mahasiswa juga diajarkan tata cara pembangunan jamban darurat yang higienis serta penataan jarak aman dari lokasi sumber air bersih. Pemetaan lokasi pembuangan limbah cair yang benar mencegah timbulnya penumpukan genangan air yang berpotensi menjadi tempat pembiakan nyamuk.
Penyuluhan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) seperti kebiasaan mencuci tangan menggunakan sabun disosialisasikan kepada penghuni penampungan. Pengelolaan sanitasi air yang terintegrasi dengan pembagian wadah penampung air tertutup mencegah terjadinya kontaminasi ulang saat air disimpan di dalam tenda. Mahasiswa dibekali keterampilan berkomunikasi massa agar warga pengungsi mau terlibat aktif menjaga kebersihan lingkungan bersama.
Skenario pelatihan juga melibatkan simulasi distribusi air bersih secara adil dan teratur menggunakan tangki air darurat ke setiap sektor pengungsian. Mahasiswa dituntut mampu berkoordinasi dengan badan penanggulangan bencana dan relawan kemanusiaan dalam memetakan kebutuhan air harian warga. Kecepatan tindakan tanggap darurat sanitasi menjadi penentu utama suksesnya pencegahan krisis kesehatan sekunder.
Pelatihan manajemen sanitasi bencana ini mencetak tenaga kesehatan lingkungan yang tangguh, inovatif, dan siap diterjunkan di medan krisis alamin. Keterampilan praktis merakit alat pemurni air darurat memberikan manfaat langsung bagi keselamatan dan kesehatan para korban bencana. Komitmen pengabdian ini menegaskan peran nyata institusi dalam misi kemanusiaan nasional.
