Pertanyaan mengenai apakah mayoritas binaragawan pakai steroid seringkali menjadi perdebatan hangat di kalangan penggemar olahraga dan masyarakat umum. Citra binaragawan dengan otot-otot super besar dan definisi yang ekstrem memunculkan spekulasi tentang penggunaan zat peningkat performa ini. Namun, untuk mendapatkan gambaran yang lebih akurat, kita perlu melihat lebih dalam fakta dan data yang ada, alih-alih hanya berasumsi bahwa semua atlet binaraga pasti pakai steroid.
Memang tidak dapat dipungkiri bahwa penggunaan steroid anabolik merupakan isu yang ada dalam dunia binaraga, terutama di level kompetitif tertinggi. Beberapa atlet terbukti pakai steroid untuk meningkatkan massa otot, kekuatan, dan daya tahan, serta mempercepat pemulihan setelah latihan intens. Kasus-kasus diskualifikasi atlet karena terbukti menggunakan zat terlarang seringkali menjadi pemberitaan, memperkuat persepsi bahwa penggunaan steroid adalah hal yang umum. Contohnya, pada kejuaraan binaraga tingkat nasional yang diadakan di Birmingham pada tanggal 10 November 2024, tercatat tiga atlet yang didiskualifikasi setelah tes urin mereka menunjukkan hasil positif mengandung steroid anabolik.
Namun, penting untuk tidak menggeneralisasi bahwa semua binaragawan pakai steroid. Ada banyak atlet binaraga yang mencapai fisik mengesankan melalui latihan keras bertahun-tahun, nutrisi yang disiplin, dan istirahat yang cukup, tanpa menggunakan zat terlarang. Mereka berkomitmen pada prinsip natural bodybuilding dan secara aktif mengkampanyekan olahraga yang bersih dan bebas dari doping. Asosiasi Binaraga Natural Inggris (NBEA), misalnya, secara rutin mengadakan kompetisi dengan pengujian ketat untuk memastikan para atlet tidak pakai steroid atau zat terlarang lainnya.
Menurut wawancara dengan Dr. Eleanor Vance, seorang ahli fisiologi olahraga di Universitas Manchester pada tanggal 5 Januari 2025, “Sulit untuk mendapatkan angka pasti mengenai persentase binaragawan yang menggunakan steroid. Namun, survei anonim dan data dari organisasi anti-doping menunjukkan bahwa prevalensinya lebih tinggi di kalangan binaragawan profesional dan mereka yang berkompetisi di level yang sangat tinggi, di mana tekanan untuk menang dan mencapai fisik ekstrem sangat besar.” Beliau juga menambahkan bahwa kesadaran akan efek samping negatif steroid anabolik semakin meningkat, dan banyak atlet muda yang memilih jalur natural untuk menjaga kesehatan jangka panjang.
Selain itu, regulasi dan pengujian anti-doping yang semakin ketat oleh berbagai federasi binaraga juga menjadi faktor penghambat penggunaan steroid. Badan Anti-Doping Dunia (WADA) dan organisasi nasional seperti UK Anti-Doping (UKAD) secara aktif melakukan pengujian di berbagai kompetisi dan di luar kompetisi untuk mendeteksi penggunaan zat terlarang. Petugas UKAD, yang ditemui di sebuah acara sosialisasi anti-doping di Leeds pada tanggal 15 Maret 2025, menjelaskan bahwa sanksi bagi atlet yang terbukti menggunakan steroid bisa sangat berat, termasuk larangan bertanding selama bertahun-tahun dan pencabutan medali.
Sebagai kesimpulan, meskipun isu penggunaan steroid memang ada dalam dunia binaraga, tidak benar untuk menyatakan bahwa mayoritas binaragawan pakai steroid. Ada banyak atlet yang berkomitmen pada cara yang alami dan bersih untuk mencapai fisik impian mereka. Regulasi yang lebih ketat dan kesadaran akan risiko kesehatan juga berperan dalam menekan penggunaan zat terlarang ini. Penting bagi masyarakat untuk memiliki pandangan yang lebih nuanced dan tidak terjebak dalam generalisasi yang tidak berdasar.
