Posted on

Healing Trauma Cianjur: Mahasiswa Stikes Dampingi Anak Pasca Bencana

Pemulihan pascabencana alam tidak hanya terbatas pada pembangunan infrastruktur fisik, tetapi juga pada rehabilitasi kondisi psikologis para penyintas, terutama anak-anak melalui program Healing Trauma Cianjur. Dampak emosional akibat gempa bumi seringkali meninggalkan bekas yang mendalam dalam ingatan kolektif generasi muda. Dalam upaya ini, mahasiswa Stikes dampingi anak pasca bencana dengan menghadirkan berbagai metode terapi bermain dan seni yang dirancang untuk melepaskan kecemasan serta ketakutan yang terpendam. Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa proses tumbuh kembang anak-anak di wilayah terdampak tetap berjalan optimal meskipun mereka baru saja melewati peristiwa yang sangat traumatis dalam hidup mereka.

Dalam pelaksanaan Healing Trauma Cianjur, para mahasiswa menggunakan pendekatan psikoedukasi yang sangat lembut dan penuh empati. Melalui aktivitas rutin di mana mahasiswa Stikes dampingi anak pasca bencana, mereka menciptakan ruang aman bagi anak-anak untuk mengekspresikan perasaan mereka melalui gambar, nyanyian, dan cerita. Teknik ini terbukti efektif dalam mendeteksi gejala gangguan stres pascatrauma (PTSD) sejak dini, sehingga penanganan lebih lanjut dapat dilakukan oleh tenaga ahli jika diperlukan. Mahasiswa berperan sebagai pendamping yang memberikan dukungan moral secara konsisten, membantu anak-anak kembali membangun rasa percaya diri dan rasa aman di lingkungan mereka yang baru saja mengalami perubahan drastis.

Keunggulan dari program Healing Trauma Cianjur ini adalah integrasi antara pemulihan mental dan edukasi kesiapsiagaan bencana. Sambil melakukan proses pemulihan, mahasiswa Stikes dampingi anak pasca bencana juga mengajarkan langkah-langkah keselamatan diri dengan cara yang menyenangkan agar anak-anak tidak lagi merasa lumpuh oleh rasa takut ketika mendengar bunyi keras atau guncangan kecil. Sinergi antara dunia akademik dan relawan lapangan ini sangat krusial dalam membangun ketahanan masyarakat Cianjur dari tingkat yang paling dasar. Para orang tua juga dilibatkan dalam sesi diskusi agar mereka mampu memberikan dukungan psikologis yang tepat di dalam rumah tangga selama masa pemulihan jangka panjang ini berlangsung.

Dukungan dari berbagai pihak terhadap agenda Healing Trauma Cianjur memungkinkan program ini menjangkau tenda-tenda pengungsian yang berada di pelosok perbukitan. Keberhasilan aksi di mana mahasiswa Stikes dampingi anak pasca bencana terlihat dari kembalinya keceriaan dan semangat belajar para peserta didik di sekolah-sekolah darurat. Pengalaman ini memberikan pelajaran berharga bagi mahasiswa mengenai pentingnya aspek kesehatan mental dalam manajemen bencana nasional. Ke depan, dokumentasi dari kegiatan ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi protokol penanganan trauma pada anak-anak di wilayah rawan bencana lainnya di Indonesia, demi menciptakan generasi yang tangguh secara mental menghadapi tantangan alam.