Kondisi kesehatan pengungsi di wilayah terdampak gempa Cianjur kini berada dalam fase mengkhawatirkan akibat fenomena Sanitasi Buruk yang mulai memicu berbagai keluhan kesehatan di tenda-tenda darurat. Kurangnya ketersediaan jamban keluarga yang memadai dan akses air bersih yang terputus membuat warga terpaksa menggunakan sumber air yang telah tercemar untuk kebutuhan mandi dan mencuci. Tumpukan sampah rumah tangga yang tidak terangkut secara rutin di sekitar lokasi pengungsian juga memperparah keadaan, menciptakan lingkungan yang sangat ideal bagi perkembangbiakan lalat dan nyamuk pembawa bibit penyakit berbahaya.
Munculnya berbagai gejala penyakit kulit dan diare massal pada anak-anak di pengungsian merupakan dampak langsung dari Sanitasi Buruk yang tidak segera ditangani oleh petugas kemanusiaan di lapangan. Air yang digunakan untuk keperluan konsumsi sering kali terkontaminasi oleh bakteri koli karena jarak antara tempat pembuangan kotoran dengan sumber air yang terlalu dekat akibat keterbatasan lahan. Para relawan medis melaporkan adanya peningkatan jumlah pasien yang datang dengan keluhan gatal-gatal hebat dan infeksi saluran pencernaan yang jika dibiarkan dapat berujung pada dehidrasi berat dan malnutrisi pada balita.
Pemerintah daerah bersama dinas kesehatan dituntut untuk segera melakukan intervensi darurat dengan membangun fasilitas mandi cuci kakus (MCK) komunal yang layak guna memutus rantai penularan akibat Sanitasi Buruk di barak pengungsian. Edukasi mengenai perilaku hidup bersih dan sehat harus terus digencarkan kepada para penyintas agar mereka tetap memperhatikan kebersihan diri meskipun dalam kondisi serba terbatas. Pengadaan tandon air bersih dan bantuan sabun antiseptik menjadi kebutuhan mendesak yang harus segera didistribusikan secara merata ke seluruh titik pengungsian di pelosok desa yang sulit dijangkau kendaraan logistik.
Dampak jangka panjang dari pengabaian masalah Sanitasi Buruk ini adalah munculnya wabah penyakit menular yang lebih serius seperti kolera atau demam berdarah yang dapat meluas ke pemukiman warga yang tidak terdampak bencana. Upaya pemulihan pasca bencana tidak hanya soal membangun kembali rumah yang runtuh, tetapi juga memastikan sistem drainase dan pengelolaan limbah cair kembali berfungsi dengan normal. Kolaborasi dengan berbagai pihak swasta untuk menyediakan toilet portabel dan sistem filter air sederhana dapat menjadi solusi cepat dalam mengatasi krisis kebersihan di masa transisi pemulihan ini.
