Upaya pemulihan pasca-bencana alam tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur fisik, tetapi juga pada rehabilitasi mental para penyintas, di mana peran Mahasiswa Psikologi Kesehatan Cianjur menjadi garda terdepan dalam proses trauma healing jangka panjang. Memasuki tahun 2026, fokus penanganan dampak gempa bumi yang sempat mengguncang wilayah tersebut telah bergeser dari masa tanggap darurat menuju penguatan resiliensi psikologis masyarakat. Kelompok mahasiswa ini bekerja secara kolaboratif dengan berbagai instansi terkait, termasuk Dinas Kesehatan dan para profesional medis, guna menyisir wilayah pedalaman yang mungkin masih menyimpan residu trauma akibat kehilangan tempat tinggal maupun anggota keluarga. Kehadiran mereka di tengah masyarakat menjadi jembatan emosional yang sangat dibutuhkan untuk memastikan bahwa luka batin yang tidak tampak dapat teridentifikasi dan tertangani dengan pendekatan yang humanis serta berbasis keilmuan.
Dalam implementasinya di lapangan, program pemulihan ini dilaksanakan secara terstruktur setiap akhir pekan guna menjangkau anak-anak dan lansia di area relokasi. Para Mahasiswa Psikologi Kesehatan Cianjur menerapkan metode intervensi seperti Play Therapy untuk anak-anak sekolah dasar dan teknik relaksasi progresif bagi orang dewasa yang masih mengalami gangguan kecemasan. Kegiatan ini seringkali dipusatkan di balai desa atau tenda-tenda komunal yang keamanannya dipantau langsung oleh aparat Kepolisian Resor (Polres) Cianjur. Kerja sama dengan pihak kepolisian ini bertujuan untuk menciptakan rasa aman bagi warga, sehingga mereka dapat lebih terbuka dalam sesi konseling kelompok. Berdasarkan data evaluasi yang dikumpulkan hingga Februari 2026, tingkat gejala pasca-trauma pada warga di Kecamatan Cugenang dan sekitarnya menunjukkan penurunan yang signifikan berkat pendampingan rutin yang dilakukan oleh para relawan akademisi ini.
Aspek koordinasi menjadi kunci keberhasilan program pemulihan mental ini. Setiap hari Selasa dan Kamis, dilakukan rapat evaluasi bersama antara perwakilan kampus, petugas puskesmas, dan aparat kecamatan untuk memetakan wilayah mana saja yang membutuhkan perhatian khusus. Mahasiswa Psikologi Kesehatan Cianjur tidak hanya berperan sebagai konselor, tetapi juga sebagai pendidik yang memberikan literasi mengenai pentingnya kesehatan mental kepada perangkat desa. Hal ini penting agar masyarakat tidak lagi menganggap depresi atau trauma sebagai sesuatu yang tabu, melainkan kondisi medis yang memerlukan perawatan serius. Dukungan logistik untuk kegiatan ini juga disokong oleh berbagai donatur yang dikoordinasikan oleh posko terpadu, memastikan alat peraga edukasi dan ruang konseling yang layak selalu tersedia bagi para penyintas yang membutuhkan tempat bercerita tanpa penghakiman.
